Sabtu, 10 Desember 2016

Makalah Pengertian dan Penjelasan Etika dan Politik Informasi (2/2)

MENOLAK PERUBAHAN
            Markus (1981) juga mengatakan bahwa suatu sistem informasi yang merubah distribusi kekuasaan dan kekuatan didalam organisasi akan ditolak oleh mereka yang akan kehilangan kekuasaan atau kekuatannya. Penolakan akibat perubahan kekuasaan atau kekuatan ini disebut dengan resistance to change atau counterimplementation (menolak implementasi). Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kekuasaan dan kekuatan merupakan hal yang penting dan sistem informasi mempunyai peranan terhadap pergeseran kekuasaan dan kekuatan tersebut. Oleh karena itu mereka yang merasa kekuasaan dan kekuatannya akan tergeser oleh penerapan sistem informasi akan melakukan penolakan.
            Penolakan dari perubahan akan lebih besar lagi jika sistem informasi digunakan untuk melakukan proses rekayasa ulang (business reengineering. Caldwell (1994) melakukan survei dan melaporkan bahwa penolakan terhadap perubahan (resistance to change) menduduki rangking tertinggi dari halangan yang dihadapi oleh proses rekayasa ulang bisnis.

IDENTIFIKASI PENOLAK
            Untuk dapat mengatasi penolakan atas perubahan (resistance to change) ini, maka orang-orang yang menolak penetapan sistem informasi yang perlu diidentifikasi. Ciri-ciri orang-orang yang menolak perubahan adalah sebagai berikut ini.
1. Mereka yang selalu menunda-nunda proyek sistem informasi dengan melakukan penolakan demi penolakan untuk membuat proyek tidak jadi dilakukan.
2. Mereka yang menyetujui proyek sistem informasi dengan membuat sistem informasi menjadi lebih luas dan lebih rumit dengan harapan akan gagal dengan sendirinya jika diterapkan.
3.Mereka yang memegang dan tidak mau melepaskan sumber-sumber daya yang diperlukan untuk mrmbangun dan menerapkan sistem informasi, sehingga proyek sistem informasi tidak dapat dilakukan.
MENGATASI  PENOLAKAN PERUBAHAN
        Penerapan sistem informasi yang baru yang menyebabkan perubahan di organisasi. Suatu sistem memajemen perubahan (change management system) perlu diterapkan untuk mengatasi penolakan karena perubahan. Martin (1999) mengingatkan bahwa untuk menerapkan sistem manajemen perubahan ini, dua hal dasar yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut ini.
1. Ketika mengenalkan perubahan di dalam suatu organisasi, kita tidak dapat mengasumsikan bahwa  manusia akan berubah sendiri karena mereka diberitahu berubah.
2.     Jika mereka berubah, kita tidak dapat mengasumsikan bahwa manusia akan berubah sesuai dengan yang diterapkan. Seringkali mereka berubah dengan cara dan hasil yang tidak diharapkan.
TEORI-TEORI PENOLAKAN PERUBAHAN
Terdapat tiga teori untuk mengetahui penyebab adanya penolakan perubahan dan cara mengatasinya terhadap penerapan sistem informsasi yang baru.
1.      Teori orientasi sistem ( system oriented theory )
         Teori ini menjelaskan bahwa yang menyebabkan penolakan perubahan adalah karena sistemnya bukan manusianya. Manusia menolak karena sistem yang akan diterapkan tidak sesuai dengan yang diharapkan, sistem banyak mengandung kesalahan, sistem masih tampak asing bagi mereka. Jika benar yang menjadi penyebab penolakan adalah sistemnya, maka kualitas dari sistem harus diperbaiki dengan cara:
a.       Pemakai sistem dilibatkan dalam pengembangan sistem untuk meningkatkan  kualitas dari sistem,
b.      Pengetesan sistem harus tuntas dan dilakukan untuk menemukan semua kesalahan,
c.       Sosialisasi pengenalan sistem harus dilakukan sebelum diterapkan,
d.      Pelatihan penggunaan sistem harus dilakukan supaya memahami sistem lebih lanjut.
2.      Teori orientasi manusia ( people oriented theory )
          Teori ini menjelaskan bahwa yang menyebabkan penolakan adalah sikap manusianya bukan sistemnya. Diasumsikan sistem sudah baik dan berkualitas tetapi masih tetap ditolak oleh pemakainya. Jika penolakan ini terjadi, untuk mengatasinya maka sikap (attitude) manusia perlu dirubah. Teori orientasi manusia konsisten dengan student (1978) yang menjelaskan sikap terhadap perubahan (attitude toward change ) dan cara mengatasinya sebgai berikut ini:
a.       Manusia tidak akan menolak penolakan sebesar mereka menolak untuk dirubah. Ini mempunyai arti bahwa sebenarnya manusia di dalam organisasi mau saja menerima terjadinya perubahan asal mereka memahaminya tanpa dipaksa untuk dirubah. Manusia akan cenderung mendukung perubahabn tanpa apa yang mereka dapat membantu. Keterlibatan dalam perubahan akan membuat mereka nyaman terhadap perubahan itu dan merasa mempunyai tanggung-jawab terhadap keberhasilan perubahan itu.
b.      Perubahan terhadap perasaan dan sikap tidak dapat dilakukan sesaat. Oleh karena itu mereka yang melakukan perubahan mendasar perlu cukup waktu merubah penolakan awal dan memberikan kesempatan seperti, misalmemcoba dulu sistem yang baru supaya lebih mengenal perubahannya. Cara ini akan meningkatkan penerimaan dari perubahan.
c.       Penerimaan terhadap perubahan akan dilakukan jika mereka merasa mendapatkan manfaat dari perubahannya. Oleh karena itu, sosialisasi dan pelatihan sistem yang menunjukkan manfaat dari sistem perlu dilakukan.
d.      Penerimaan terhadap perubahan juga akan meningkat dengan keseriusan pihak yang melakukan perubahan. Keseriusan ini dapat ditunjukkan dengan sosialisasi, pelatihan dan pengujian yang serius dari sistem.
e.       Faktor ketegangan menyebabkan penolakan dari perubahan. Ketegangan (stress) muncul karena ketidakpastian yang akan terjadi dengan sistem yang baru. Besarnya ketegangan tergantung dari dampak dari perubahan tersebut. Jika dampak  dari perubahan hanya melibatkan prosedur-prosedur atau praktek-praktek bisnis, tingkat ketegangan yang dialami oleh manusia didalamorganisasi tidak begitu besar. Akan tetapi perubahan yang menyangkut peran dan jabatan seseorang akan menyebabkan tingkat ketegangan yang besar dengan akibat tingkat penolakan yang besar. Sosialisasi, penjelasan, pendidikan dan keterlibatan pemakai sistem akan mengurangi ketegangan ini.
3.      Teori interaksi (interaction theory)
    Teori interaksi menunjukkan bahwa yang menyebabkan penolakan bukan sistemnya dan bukan manusianya tetapi lebih ke interaksi diantaranya. Penolakan ini disebabkan walaupun sistemnya berkualitas tetapi sulit untuk digunakan disebabkan karena penghubungan ( interface ) yang tidak berteman.
Berikut ini merupakan cara untuk mengatasi penolakan ini:
a.       Meningkatkan penghubungan (interface) antara pemakai dengan sistem
b.      Mendorong partisipasi pemaki sistem didalam pengembangan dan penerapan sistem supaya lebih memahami di dalam berhubungan dengan sistem.
4.      Model-model Adopsi Perubahan
          Jika teori tentang perubahan hanya menjelaskan tentang apa yang menyebabkan terjadinya penolakan dari perubahan-perubahan dan cara mengatasinya, tetapi tidak memberikan cara lebih terinci bagaimana mengatasi perubahan. Model-model yang akan dibahas adalah Lewin/Schein model dan innovation adoption model.
Model dari Lewin/Schein ( Luwin, 1947 danSchein,1987 ) terdiri dari tiga tahapan, yaitu mencaikan kekakuan ( unfreezing ), mengarahkan ( moving ) dan membekukan kembali ( refreezing).
Tahapan pertama dari model ini adalah memcairkan kebekuan ( unfreezing ) dari pendapat yang lama. Tahap ini terdiri dari dua aspek. Yang pertama membuat kebutuhan bahwa perubahan itu dibutuhkan baik oleh individu maupun oleh organisasi, sehingga menimbulkan motivasi untuk mau berubah.
Kedua adalah menciptakan suasana atau atmosfir yang aman. Hal ini diperlukan karena perubahan sering dipandang sebagai sesuatu yang beresiko apalagi yang menyangkut peran dan jabatan seseorang. Mereka yang terkena perubahan harus diyakinkan bahwa mereka tidak akan dirugikan dengan perubahan tersebut.
            Tahapan kedua dari model ini mengarahkan ( moving ) ke tujuan perubahan yang akan tercapai. Tahap ini terdiri dari dua aspek. Aspek pertama adalah yang menyediakan informasi yang perlu tentang arah dari perubahan yang akan dituju. Informasi ini diperlukan untuk merubah sikap dan perilaku penolakan. Kedua adalah menyediakan dan mengasimilasikan pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk menjalankan perubahan-perubahan. Misalkan perubahan terhadap sistem informasi yang baru dibutuhkan pengetahuan tentang sistem yang baru ini dan keahlian untuk menggunakannya
            Tahap ketiga dari model ini adalah membekukan kembali ( refreezing ) sikap yang sudah dirubah. Tahap ini melibatkan juga beberapa aspek. Yang pertama adalah  mengintegrasikan hasil perubahan ke kegiatan rutim yang akan dilakukan bukannya dianggap sebagai sesuatu yang baru dan khusus. Aspek yang kedua adalah memasukkannya ke dalam sistem sosial yang ada supaya perubahan yang terjadi dapat  diterima secara luas.
            Model adopsi perubahan kedua adalah innovation adoption model. Suatu inovasi ( innovation ) adalah suatu ide yang baru bagi individu atau organisasi . Adopsi ( adoption ) adalah  keputusan untuk menggunakan inovasi tersebut secara konyinyu. Beberapa penerapan hal yang baru di organisasi tidak dapat diperintahkan untuk digunakan. Misalnya penerapan e-mail diorganisasi tidak dapat diperintah dan dipaksakan. Penerapan e-mail ini alan lebih efektif jika mereka mengadaptasikannya ke dalam kegiatan mereka sehari-hari. Dengan demikian diadopsikan berarti digunakan sebagai sesuatu kebutuhan yang mendasar.
            Rogers (1962 ) mengusulkan lima tahapan dalam mengadopsi inovasi. Kelima tahapan adopsi inovasi tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Kesadaran (awareness). Pada tahapan ini individu-individu dikenalkan kepada inovasi yang ada supaya mereka sadar bahwa ada inovasi yang baru itu berguna
2.      Minat ( interest ). Tahap berikutnya adalah membuat mereka tertarik dan berminat dengan inovasi baru dengan mencari informasi tambahan yang diperlukan.
3.      Evaluasi ( evaluation ). Pada tahap  ini individu-individu akan menilai inovasi tersebut dan mengevaluasi apakah inovasi tersebut bermanfaat atau tidak untuk mereka
4.      Percobaan (trial). Jika dianggap bermanfaat, individu-individu akan mulai mencoba inovasi tersebut. Kemudahan digunakan dan kemanfaatan inovasi merupakan hal yang penting ditahap ini untuk membawa mereka ke tahap berikutnya.
5.      Adopsi (adoption). Pada tahap ini individu-individu memutuskan untuk mengadopsi inovasi tersebut ke kegiatan mereka secara kontinyu.
Rogers menambahkan bahwa untuk kesuksesan adopsi dari inovasi tergantung dari beberapa faktor. Faktor-faktor ini adalah sebagai berikut ini:
1.        Persepsi dari keuntungan relatip
Kebutuhan relatip dari inovasi adalah kelebihan  keuntungan dibandingkan dengan yang diberikan oleh sistem yang lama. Persepsi lebih penting dari kenyataanya karena kenyataan belum terjadi sebelum mereka harus dibuat percaya untuk menerima inovasi. Persepsi lebih ke apa yang individual percaya terhadap sesuatu.
2.        Kompabilitas
Kompabilitas merupakan tingkat seberapa besar inovasi tersebut konsisten dengan nilai, opini, kelakuan atau pengalaman yang dimiliki oleh individu-individu yang akan mengadopsi inovasi. Semakin kompatibel inovasi tersebut akan semakin mudah diadopsikan
3.        Kerumitan
Kerumitan adalah tingkat kesulitan inovasi dipahami. Semakin mudah dipahami akan semakin mudah inovasi tersebut diadopsikan.
4.        Komunikabilitas
Komunikabilitas adalah tingkat komunikasi hasil dari inovasi yang dapat disebarkan ke calon pengadopsi inovasi yang lainnya. Semakin tinggi tingkat komunikabilitasnya dari hasil inovasi, semakin mudah dan cepat diadopsikan.
1.        Juara
Martin ( 1999 ) menambahkan sebuah faktor yaitu juara ( champion ). Seorang juara ( champion ) adalah orang yang mau berkorban waktu dan tenaganya umtuk menerima inovasi dan menyebarkannya.

Baca Juga : Etika dan Politik Informasi (1/2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar