Senin, 18 September 2017

Pengembangan Produk Baru dan Strategi Siklus Hidup Produk (II/II)


h.      Komersialisasi
            Komersialisasi adalah pengenalan sebuah produk baru ke pasar. Pemasaran uji menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan akhir apakah hendak meluncurkan produk baru bagi manajemen. Bila perusahaaan melanjutkan komersialisasi mereka akan menghadapi biaya yang tinggi. Dalam kasus barang kemasan konsumen baru yang utama , mereka dapat menghabiskan ratusan juta dolar untuk iklan, promosi penjualan, dan usaha pemasaran lainnya dalam tahun pertama. Perusahaan yang meluncurkan satu produk baru mula-mula harus memutuskan waktu perkenalan.
Perusahaan harus memutuskan dimana produk baru akan diluncurkan dalam satu lokasi, wilayah, pasar nasional, atau pasar internasional. Segelintir perusahaan mempunyai keyakinan, modal dan kapasitas untuk meluncurkan produk baru ke dalam seluruh distribusi nasional atau internasional. Mereka akan mengembangkan rencana peluncuran pasar (market rollout) pada suatu waktu. Secara khusus, perusahaan kecil mungkin memasuki kota atau daerah yang menarik satu per satu. Namun perusahaan yang lebih besar dapat dengan cepat memperkenalkan model baru ke beberapa daerah atau ke seluruh pasar nasional. Perusahaan dengan sistem distribusi internasional dapat memperkenalkan produk baru melalui peluncuran global.

Mengatur Pengembangan Produk Baru
            Pengembangan produk baru membutuhkan lebih dari sekedar melewati beberapa tahapan. Perusahaan harus mengambil pendekatan yang menyeluruh untuk mengatur proses ini. Pengembangan produk baru yang berhasil perlu berpusat pada pelanggan, berdasarkan tim, dan usaha yang sistematis.
Pengembangan Produk Baru yang Berpusar pada Pelanggan
            Pengembangan produk baru yang berpusat pada pelanggan adalah pengembangan produk baru yang berfokus pada menemukan cara baru untuk memecahkan masalah pelanggan dan memberikan pengalaman yang lebih memuaskan bagi pelanggan. Salah satu penelitian terakhir menemukan produk baru yang berhasil adalah yang mempunyai diferensiasi, memecahkan permasalahan utama pelanggan, dan menawarkan proposisi nilai pelanggan yang menarik.
Pengembangan Produk Baru berdasarkan Tim
            Pengembangan produk baru berdasarkan tim adalah sebuah pendekatan untuk mengembangkan produk baru di mana berbagai departemen bekerja sma secara erat, melewati beberapa tahapan dalam proses pengembangan produk baru untuk menghemat waktu dan meningkatkan efektivitas. Tim ini biasanya meliputi departemen pemasaran, keuangan, desain, produksi, dan hukum, bahkan pemasok dan perusahaan pelanggan. Dalam proses yang berurutan, kebuntuan pada suatu fase bisa sangat memperlambat keseluruhan proyek. Dalam pendekatan secara simultan, bila suatu area fungsi mendapatkan rintangan, area tersebut bekerja untuk memecahkannya sementara tim bergerak maju.
            Pendekatan berdasarkan tim mempunyai beberapa keterbatasan. Contohnya pendekatan ini kadang menimbulkan ketegangan dan kebingungan dalam organisasi, dibandingkan pendekatan tahap yang berurutan. Namun, dalam industri yang cepat berubah dengan siklus hidup produk yang lebih singkat, hasil dari pengembangan produk yang cepat dan fleksibel jauh melebihi risikonya. Perusahaan yang mengkombinasikan pendekatan yang berpusat pasa pelanggan dengan pengembangan produk baru berdasarkan tim mendapatkan keunggulan kompetitif besar dengan memperoleh produk baru yang terjadi di pasar secara lebih cepat.
Pengembangan Produk Baru yang Sistematis
            Tekahir, pengembangan produk baru haruslah secara holistik dan sistematis daripada secara acak. Bila tidak, sedikit ide baru yang akan naik ke permukaan, dan banyak ide bagus akan tenggelam dan mati. Untuk menghindari masalah ini, perusahaan dapat memasang sistem manajemen inovasi untuk mengumpulkan, meninjau, mengevaluasi dan mengatur ide produk baru.
            Pendekatan sistem manajemen inovasi ini memberikan dua hasil yang diinginkan. Pertama, pendekatan ini membantu menciptakan budaya perusahaan berorientasi inovasi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa manajemen puncak mendukung, mendorong, dan memberikan imbalan bagi inovasi. Kedua, pendekatan ini akan memberikan ide produk baru dalam jumlah banyak, beberapa diantaranya sangat istimewa. Ide baru yang bagus dapat dikembangkan secara lebih sistematis, memberikan keberhasilan produk baru yang lebih banyak lagi. Tidak ada lagi ide bagus yang hilang karena kekurangan dukungan dewan atau penasihat produk senior.
            Oleh karena itu, keberhasilan produk baru membutuhkan lebih dari sekedar memikirkan beberapa produk baru, menjadikan mereka produk dan menemukan pelanggan untuk produk tersebut. Kesuksesan produk baru membutuhkan pendekatan holistik untuk menemukan cara baru guna menciptakan pengalaman bernilai bagi pelanggan, mulai dari menciptakan dan menyaring ide produk baru hingga menciptakan dan menghasilkan produk yang dapat memuaskan keinginan pelanggan.

Strategi Siklus Hidup Produk
Setelah meluncurkan produk baru, manajemen menginginkan suatu produk agar menikmati hidup yang panjang dan bahagia. Manajemen mengetahui bahwa masing-masing produk memiliki siklus hidupnya masing-masing. Salah satunya siklus hidup produk (Product Life Cycle).
Siklus hidup produk mempunyai lima tahapan yang berbeda:
1.      Pengembangan produk, dimulai ketika perusahaan menemukan dan mengembangkan suatu ide produk baru. Selama pengembangan produk, penjualan masih nol dan biaya investasi perusahaan menumpuk.
2.      Pengenalan, periode di mana pertumbuhan penjualan lambat pada saat produk diperkenalkan dipasar. Keuntungan tidak terjadi pada tahap ini karena pengeluaran yang besar untuk memperkenalkan produk.
3.      Pertumbuhan, merupakan periode penerimaan dengan cepat oleh pasar dan peningkatan keuntungan.
4.      Kedewasaan, periode melambatnya pertumbuhan penjualan dikarenakan produk telah diterima sebagian besar pembeli potensial. Tingkat keuntungan tidak berada di puncak atau menurun karena meningkatnya pengeluaran pemasaran untuk mempertahankan produk dalam persaingan.
5.      Penurunan, periode ketika penjualan mulai menurun dan keuntungan jatuh.
Tidak semua produk mengikuti siklus hidup produk ini. Beberapa produk diperkenalkan dan gugur dengan cepat, yang lain pada tahap kedewasaan butuh waktu yang sangat lama. Merek yang panjang umur seperti coca cola, gillete dll.
Konsep PLC dapat menjelaskan kelas produk, dapat digunakan secara berbeda-beda dalam masing-masing kasus. Siklus hidup merek yang spesifik dapat berubah dengan cepat karena perubahan serangan dan respon dari pesaing. Konsep PLC juga dapat diaplikasikan kepada apa yang dikenal sebagai gaya, mode dan fad.
Gaya adalah jenis ekspresi dasar yang berbeda. Contoh perbedaan baju formal dan non formal. Gaya diciptakan, dapat bertahan selama beberapa generasi, melewati pergantian mode yang digemari. Sebuah gaya mempunyai siklus yang menunjukkan beberapa periode munculnya kembali minat.
Mode adalah gaya yang diterima atau popular saat ini dalam suatu bidang. Contoh busana bisnis yang lebih formal dari pakaian kerja tahun 1980 an dan awal 1990 an memberikan jalan kepada penampilan bisnis santai hari ini. Mode cenderung tumbuh perlahan, menjadi popular untuk beberapa waktu dan kemudian menurun perlahan.
Fad adalah periode sementara dari tingginya tingkat penjualan yang tidak biasa digerakkan oleh antusiasme konsumen dan popularitas mendadak dari suatu produk atau merek. Fad dapat berupa salah satu bagian dari siklus hidup normal.

Konsep PLC dapat diaplikasikan oleh pemasar sebagai kerangka yang berguna untuk menggambarkan bagaimana produk dan pasar bekerja. Jika digunakan dengan cermat, konsep PLC dapat membantu dalam mengembangkan strategi pemasaran yang baik untuk tahap yang berbeda dari siklus hidup produk. Tetapi menggunakan konsep PLC untuk memperkirakan kinerja suatu produk atau untuk mengembangkan strategi produk mempunyai beberapa masalah praktis. 

Bisnis Dan Etika Dalam Dunia Modern (II/II)

PENILAIAN UMUM
Penilaian umum adalah cara yang ketiga dan salah satu cara yang paling ampuh untuk dapat menentukan apakah suatu perbuatan baik atau tidak. Penilaian umum dapat disebut juga Audit Sosial, karena cara menilainya adalah dengan menyerahkan penilaian kepada masyarakat umum. “Audit” disini berarti kualitas etis yang dimiliki suatu perbuatan yang ditentukan oleh penilaian masyarakat umum. “Umum” adalah kata yang perlu mendapat perhatian khusus dalam pembahasan ini. Bila masyarakat menilai suatu perbuatan dengan ukuran dan pertimbangan yang terbatas maka penilaian tersebut tidaklah cukup, mungkin saja mereka memiliki vested interest sehingga mereka dapat begitu saja membenarkan perbuatan yang dirasa menguntungkan tetapi tidak memperhatikan kualitas etisnya.
Hasil penilaian yang subyektif didapatkan ketika masyarakat yang melakukan penialaian juga masih memiliki keterbatasan, maka hasil yang diperoleh pun hanya dari sudut pandang tertentu. Keterbukaan adalah kunci dari suksesnya penilaian yang dilakukan masyarakat. Perilaku yang baik secara moral tidak akan terlalu terpengaruh dengan adanya tuntutan keterbukaan, sementara perilaku yang tidak baik secara moral akan dilakukan oleh beberapa orang secara tersembunyi.
Beberapa golongan di dalam masyarakat adalah orang-orang yang menganut relativisme moral, yaitu keyakinan bahwa di dalam masyarakat yang memiliki nilai-nilai sosial berbeda akan memiliki norma-norma yang berbeda  pula. Beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Jerman menolak dengan keras adanya praktik korupsi. Akan tetapi, di beberapa negara berkembang, praktik korupsi berkembang dengan sangat pesat dan dianggap sebagai perbuatan yang normal untuk dilakukan. Contoh lain ada di dalam dunia bisnis yang dilakukan oleh negara Jepang dan Amerika Serikat. Jepang beranggapan bahwa nilai yang tertinggi adalah kesetiaan karyawan kepada perusahaan, sedangkan Amerika Serikat beranggapan bahwa nilai yang tertinggi adalah kebebasan individu.
Contoh-contoh kasus diatas menjelaskan pada kita bahwa orang-orang yang terlibat adalah orang yang menghindari keterbukaan. Audit sosial menunjukkan bahwa tidak ada satupun negara negara di dunia ini yang menerima bahwa praktik korupsi sebagai perilaku yang dan bahkan diterima secara moral.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah, bisnis yang baik harus memenuhi semua persyaratan dari semua sudut pandang seperti yang dijelaskan diatas. Anggapan umum tentang bisnis yang baik adalah bisnis yang berorientasi pada keuntungan, akan tetapi bisnis yang baik adalah bisnis yang menegakkan etika dan hukum dengan tegas pula.

PROFIL ETIKA BISNIS DEWASA INI
Dewasa ini, Etika Bisnis sudah dapat terima sebagai suatu disiplin ilmu yang mapan dan mempunyai status ilmiah yang serius. Akan tetapi Etika Bisnis tetap harus terus berjuang untuk membuktikan diri sebagai disiplin ilmu yang disegani. Beberapa  pertanda yang menunjukkan status dari Etika Bisnis cukup meyakinkan dan beberapa poin profil ilmiah yang dimiliki Etika Bisnis di masa sekarang, yaitu:
Ciri pertama tentang status ilmiah yang dimiliki Etika Bisnis adalah segala praktis di dalam dunia Etika Bisnis diberikan sebagai mata kuliah resmi di perguruan tinggi. Kedudukaan Etika Bisnis begitu kuat sebagai mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi.  Pada sebuah riset tahun 1987, diselenggarakan 500 kuliah etika bisnis dan lebih dari 40.000 mahasiswa yang mengikuti kuliah tersebut. Dewasa ini dapat dipastikan akan ada lebih banyak perkuliahaan Etika Bisnis yang diadakan dalam skala global.
Publikasi mengenai Etika Bisnis juga telah banyak diterbitkan. Menurut riset tahun 1987 pula, sudah terbit lebih dari 20 buku pegangan tentang Etika Bisnis dan lebih dari 10 buku kasus di Amerika Serikat. Jumlah saat ini jelas sudah sangat banyak bertambah dan publikasi tersebut selalu mengikuti perkembangan globalisasi.
Ilmu tentang Etika Bisnis juga telah melahirkan cukup banyak jurnal ilmiah dan hal tersebut adalah tanda suatu bidang ilmu dapat dikatakan mencapai tingkat kematangan imiah. Selain itu terdapat banyak artikel bertema Etika Bisnis yang diterbitkan, baik di dalam majalah ekonomi, manajemen, ataupun filsafat.
Terdapat banyak kamus tentang Etika Bisnis yang diterbitkan dalam bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Di sisi lain, cukup banyak institut yang secara khusus mempelajari permasalahan seputar Etika Bisnis.Beberapa asosiasi yang bertujuan khusus untuk memajukan Etika Bisnis juga telah banyak berdiri. Cara yang digunakan adalah dengan mengumpulkan dosen-dosen yang mengajarkan Etika Bisnis dan paminat lain ke dalam pertemuan berkala.

SIKAP MODERN DEWASA INI
Kita dapat melihat data sejarah dan kebudayaan bahwa kegiatan bisnis butuh waktu cukup lama untuk mendapatkan anggapan yang baik dari masyarakat seperti sekarang ini. Di zaman ini kegiatan bisnis dianggap sebagai kegiatan yang baik, akan tetapi tidak dengan di masa lalu. Maka terdapat perbedaan sikap yang harus ditunjukkan untuk menjalankan kegiatan bisnis. Salah satu tolak ukur adanya penunjukkan sikap negatif terhadap kegiatan adalah motivasi dari kegiatan bisnis itu sendiri, mencari keuntungan. Pencarian keuntungan biasanya dikaitkan dengan sifat egoisme atau mementingkan diri sendiri, dan itu adalah sifat yang tidak baik dipandang dari sisi moral. Sifat yang berlawanan dari egoisme adalah altruisme, yaitu sifat yang sangat mementingkan orang lain bahkan menganggap rendah kepentingan dirinya sendiri. Jelas altruisme adalah sifat yang baik dipandang dari sisi moral.
Adam Smith menjelaskan tentang perbedaan antara kepentingan diri sendiri dengan egoisme di dalam dunia bisnis modern. Orang yang terlibat dalam kegiatan bisnis memang adalah orang yang mementingkan kepentingan diri akan tetapi orang tersebut tidak sampai menyebabkan kerugian pada orang lain. Justru, karena ada perilaku ekonomi di dalam dunia bisnis, hal itulah yang menguntungkan kedua belah pihak. Etika tetap sangat dibutuhkan agar hal itu dapat terwujud, dan etika yang harus dietgakkan dlam kegiatan bisnis adalah jangan sampai perilaku kita merugikan oran lain.
Di zaman sekarang ini, etika bisnis sedang mengalami beberapa keprihatinan. Kapitalisme adalah momok yang membuat keprihatinan tersebut terjadi. Saat ini telah banyak bermunculan konglomerat dan korporasi multinasional. Pertumbuhan mereka sangat pesat, kepentingan yang mereka bawa juga sangat besar, dan kekayaan yang mereka miliki bahkan melebihi kekayaan sebuah negara. Akibatnya adalah bisnis menduduki posisi yang sangat penting dalam bidang perekonomian. Pertanyaan yang bermunculan salah satunya adalah, “Apa yang akan terjadi jika perusahaan-perusahaan multinasional tersebut akan menguasai dunia?”.
Kekuasaan adalah alasan munculnya permasalahan di dalam Etika Bisnis. Kegiatan bisnis ingin menciptakan kekuasaan yang besar.  Bagi sebagian orang, apa yang sedanng terjadi di dalam dunia bisnis sudah tidak terkontrol. Kekuasaan yang tidak terkontorl adalah alasan mengapa muncul perilaku tidak baik yang lain, korupsi. Pertanyaan yang muncul  adalah, bagaimana membatasi sifat ingin mendapatkan kekuasaan yang besar tersebut agar tidak terjadi penyalahgunaan? Hal itulah hyang menjadi tantangan tersendiri bagi bidang keilmuan Etika Bisnis.
Di era sekarang ini, era globalisasi, bisnis yang bertaraf nasional maupun internasional memiliki masalah yang tidak sesederhana itu. Masalah pelik tersebut adalah kekuasaan ekonomi yang merajalela dengan sangat bebas, maka ekonomi-ekonomi lemah akan menjadi korbannya. Kekuasaan akan selalu menjadi hak milik bagi mereka yang memiliki kekuatan ekonomi besar. Maka, prinsip yang harus menjadi perhatian utama kita adalah etika harus selalu ikut serta dalam seluruh kegiatan bisnis.

KRITIK ATAS ETIKA BISNIS
Etika Bisnis adalah bidang keilmuan yang akademis, maka Etika Bisnis tentu masih mengalami beberapa permasalahan. Penyempurnaan bahkan penambahan materi sebagai pengayaan materi Etika Bisnis harus terus dilakukan. Etika Bisnis harus memiliki sifat terbuka sehingga dapat menerima masukan, kritik, dan saran yang membangun. Akan tetapi, banyak ditemukan kritik yang bermaksud tidak baik terhadap Etika Bisnis,setelah ini akan dijelaskan mengenai pandangan Etika Bisnis yang sebenarnya.

ETIKA BISNIS ITU MENDISKRIMINASI
Permasalahan pertama terjadi di dalam dunia Etika Bisnis karena orang yang mengirimkan kritikan tersebut kepada Etika Bisnis, bukan apa isi dari kritikan tersebut. Peter Drucker, seorang ahli dalam bidang manajemen, pernah mengemukakan kritik yanng sangat tajam tentang dasar logika yang dipakai di dalam Etika Bisnis beserta penerapannya di dunia praktis. Inti dari keberatan yang dilontarkan Ducker adalah Etika Bisnis menjalankan praktik diskriminasi. Drucker beranggapan bahwa Etika Bisnis sengaja ingin diperlakukan spesial tentang caranya mengaitkan bisnis dengan etika. Banyak pihak yang beranggapan bahwa tuduhan yang diberikan Drucker tidak beralasan.
Etika Bisnis adalah prinsip moral yang umum atas suatu bidang khusus. Norma-norma yang dipakai di dalam Etika Bisnis bukan karena ada norma-norma yang tidak berlaku untuk bidang selain bisnis, semua itu karena keadaan dan masalah yang terjadi mempunyai corak khusus. Dengan adanya Etika Bisnis membuat tidak adanya pengecualian diantara manusia. Kegiatan bisnis adalah kegiatan yang harus dilakukan seperti kegiatan manusiawi lainnya dan yang paling utama adalah membutuhkan etika.

ETIKA BISNIS ITU KONTRADIKTIF
Etika Bisnis mengandung banyak sekali sisi kontradiktif, beberapa orang mengakui hal itu karena menurut mereka antara kegiatan bisnis dengan etika tidak bisa disatukan. Bisnis adalah salah satu kegiatan yang tidak mungkin dijalankan dengan etika karena kegiatan bisnis sama halnya seperti kagiatan di alam rimba. Dominasi yang kuat akan menindas yang lemah. Kritikan ini lebih sulit untuk diberikan responsnya karena banyak sudut pandang yang harus dijelaskan agar detail dari ilmu Etika Bisnis dapat tersampaikan dan membantah kritikan tersebut.

ETIKA BISNIS ITU TIDAK PRAKTIS
Sejak awal kemunculan sampai saat ini masih cukup banyak orang yang tersesat dengan berbagai penjelasan mengenai Etika Bisnis sebagai ilmu pengetahuan, salah satunya adalah Andrew Stark. Andrew Stark adalah seorang ahli dalam bidang manajemen dan dia mengatakan bahwa Etika Bisnis adalah bidang keilmuan yang tidak praktis.
Kritikan Stark bisa dikatakan tidak masuk akal karena dia hanya mengambil kesimpulan dari aspek-aspek etis tentang keputusan yang harus diambil oleh seorang manajer dan dia kurang berminat untuk mempelajari secara menyeluruh di mana pekerjaannya ditempatkan. Sebagai ilmu pengetahuan, Etika Bisnis bersifat relektif dan teoritif. Teori dengan praktik tidak dapat dipisahkan, termasuk ketika menerapkannya pada metode kasus.

ETIKAWAN TIDAK BISA MENGAMBIL ALIH TANGGUNGJAWAB
Setiap manusia adalah pelaku moral yang bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya  sendiri. Menurut orang-orang yang melontarkn kritikan bahwa kita tidak membutuhkan orang yang ahli di bidang Etika Bisnis, karena orang-orang tersebut mengambil alih tanggung jawab setiap manusia untuk menentukan apa yang harus diperbuatnya sendiri terhadap moral. Seluruh kritikan yang telah dilontarkan sebenarnya berasal dari sebuah kesalahpahaman.
Etika Bisnis bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada semua orang (terlepas apakah dia seorang pebisnis, manajer, atau pelaku moral yang lain di bidang bisnis) bahwa perilaku-perilaku yang dijelaskan di dalam etika bisnis adalah perilaku yang secara umum diakui sebagai perilaku yang baik untuk dilakukan, khususnya di kegiatan bisnis. Etika Bisnis bertujuan untuk membantu seseorang mengambil sebuah keputusan moral yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan, akan tetapi tidak bertujuan untuk menggantikan posisi dan peran orang tersebut.

Etika dan Manajemen Sumber Daya Manusia (II/II)

Hak dan Kewajiban Karyawan dan Perusahaan

Hak Karyawan pada Perusahaan

a.Hak atas pekerjaan
Hak atas pekerjaan merupakan hak asasi manusia.Karena, pertama kerja melekat pada tubuh manusia.Kerja adalah aktivits tubuh dankarena itu tidak bisa dilepaskandari tubuh manusia.Kedua, kerja merupakan perwujudan diri manusia.Melalui kerja, manusai merealisasikan dirinya sebagai manusia dan sekaligus membangun hidup dan lingkungan yang lebih manusiawi.

b.Hak atas upah yang adil
Hak atas upah yang adil merupakan hak legal yang diterima dan dituntut seseorang sejak ia mengikat diri untuk bekerja pada suatu perusahaan. Karena itu, perusahaan yang bersangkutan mempunyai kewajiban untuk memberikan upah yang adil. Sesungguhnya hal ini ditegaskan dalam tiga hal, yaitu:
1) Setiap pekerja mendapatkan upah. Artinya, setiap pekerja berhak mendapatkan upah.
2) Setiap orang tidak hanya berhak memperolehupah. Ia juga berhak untuk memperoleh upah yang adil, yaitu upah yang sebanding dengan tenaga yang telah disumbangkannya.
3) Hak atas upah yang adil adalah bahwa pada prinsipnya tidak boleh ada perlakuan yang berbeda atau diskriminatif dalam soal pemberian upah kepada semua karyawan.

c.Hak untuk berserikat dan berkumpul
Untuk bisa memperjuangkan kepentingannya, khususnya hak atas upah yang adil, pekerja harus diakui dan dijamin haknya untuk berserikat dan berkumpul.Yang bertujuan untuk bersatu memperjuangkan hak dan kepentingan semua anggota mereka. Menurut De Goerge, dalam suatu masyarakat yang adil, diantara perantara-perantara yang perlu untuk mencapai suatu sistem upah yang adil, serikat pekerja memainkan peran yang penting. Ada dua dasar moral yang penting dari hak untuk berserikat dan berkumpul:
1) Ini merupakan salah satu wujud utama dari hak atas kebebasan yang merupakan salah satu hak asasi manusia.
2) Dengan hak untuk berserikat dan berkumpul, pekerja dapat bersama-sama secara kompak memperjuangkan hak mereka yang lain, khusunya atas upah yang adil.

d.Hak atas perlindungan kesehatan dan keamanan
Sekarang ini dianggap penting bahwa para pekerja dijamin keamanan, keselamatan, dan kesehatannya.Lingkungan pekerja dalam industri modern khususnya yang penuh dengan berbagai resiko tinggi mengharuskan adanya jaminan perlindungan atas keamanan, keselamatan bagi para pekerja. Beberapa hal yang perlu dijamin, yaitu:
1) Setiap pekerja berhak mendapat perlindungan atas keamanan, keselamatan, dan kesehatan melalui program jaminan atau asuransi keamanan dan kesehatan yang diadakan perusahan itu.
2) Pekerja berhak mengetahui kemungkinan resiko yang akan dihadapinya dalam menjalankan pekerjaannya dalam bidangtertentu dalam perusahaan tersebut.
3) Setiap pekerja bebas untuk memilih dan menerima pekerjaan dengan resiko yang sudah diketahuinya itu atau sebaliknya menolaknya. Dengan kata lain, pekerja tidak boleh dipaksa atau terpaksa untuk melakukan suatu pekerjaan penuh resiko.

e.Hak untuk diproses hukum secara sah
Hak ini terutama berlaku ketika seorang pekerja dituduh dan terancam dengan hukuman tertentu karena diduga melakukan pelanggaran atau kesalahan tertentu.Dalam hal ini, pekerja tersebut wajib diberi kesempatan untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Ia wajib diberi kesempatan untuk membuktikan apakah ia melakukan kesalahan seperti ditudiuhkan atau tidak. Jadi karyawan harus didengar pertimbangannya, alasannya, saksi yang mungkin dihadapkannya, atau diberi kesempatan untuk mengaku secara jujur.

f.Hak untuk diperlakukan secara sama
Dengan hak ini ditegaskan bahwa semua pekerja, pada prinsipnya harus diperlakukan secara sama. Artinya, tidak boleh ada diskriminasi dalam perusahaan entah berdasarkan warna kulit, jenis kelamin, etnis, agama, dan semacamnya, baik dalam sikap dan perlakuan, gaji, maupun peluang untuk jabatan, pelatihan atau pendidikan lebih lanjut.

g.Hak atas rahasia pribadi        
Kendati perusahaan punya hak tertentu untuk mengetahui riwayat hidup dan data pribadi tertentu dari setiap karyawan, karyawan punya hak untuk dirahasiakan data pribadinya itu.Bahkan perusahaan harus menerima bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak boleh diketahui oleh perusahaan dan ingin tetap dirahasiakan.

h.Hak atas kebebasan suara hati
Hak ini menuntut agar setiap pekerja harus dihargaikesadaran moralnya.Ia harus dibiarkan bebas mengikuti apa yang menuntut suara hatinya adalah hal yang baik. Konkretnya, pekerja tidak boleh dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu yang dianggapnya tidak baik: melakukan korupsi, menggelapkan uang perusahaan, menurunkan standar ramuan produk tertentu demi memperbesar keuntungan, menutup-nutupi kecurangan yang dilakukan perusahaan atau atasan.

1.Kewajiban Karyawan pada Perusahaan

a.Kewajiban ketaatan
Karyawan harus taat kepada atasannya, karena ada ikatan kerja antara keduanya.Namun, tentunya taat disini bukan berarti harus selalu mematuhi semua perintah atasannya, jika perintah tersebut dianggap tidak bermoral dan tidak wajar, maka pekerja tidak wajib mematuhinya.

b.Kewajiban konfidensialitas
Kewajiban untuk menyimpan informasi yang sifatnya sangat rahasia.Setiap karyawan di dalam perusahaan, terutama yang memiliki akses ke rahasia perusahaan seperti akuntan, bagian operasi, manajer memiliki konsekuensi untuk tidak membuka rahasia perusahaan perusahaan kepada khalayak umum. Kewajiban ini tidak hanya dipegang oleh karyawan tersebut selama ia masih bekerja disana, tetapi juga setelah karyawan tersebut tidak bekerja di tempat itu lagi.

c.Kewajiban loyalitas
Konsekuensilain yang dimiliki seorang karyawan apabila dia bekerja di dalam sebuah perusahaan adalah dia harus memiliki loyalitas terhadap perusahaan. Dia harus mendukung tujuan-tujuan dan visi misi perusahaan tersebut.Karyawan yang sering berpindah-pindah pekerjaan dengan harapan memperoleh gaji yang lebih tinggi dipandang kurang etis karena dia hanya berorientasi pada materi.

2.Hak dan Kewajiban Perusahaan kepada Karyawan
Perusahaan dan karyawan memiliki hubungan timbal balik yang kuat.Hak karyawan pada perusahaan seperti yang telah dijelaskan diatas merupakan kewajiban yang wajib dipenuhi oleh perusahaan.Sedangkan, kewajiban yang dibebankan pada keryawan merupakan hak perusahaan yang dimiliki pada karyawan.

Hak dan Tanggung Jawab dalam Konflik : Diskriminasi, Keberagaman dan Tindakan Afirmatif
Fokusnya terletak pada wilayah abu-abu yang masih belum diatur dengan jelas dalam hukum,yang masih terbuka untuk interpretasi budaya,pendapat minoritas yang kuat dan pertimbangan nilai yang beragam. Tujuannya adalah untuk mengartikulasikan dan menerapkan proses pengambilan keputusan yang etis terhadap tantangan yang ditampilkan,menyediakan sebagian argumen yang dibuat oleh para pendukung yang terlibat.

Diskriminasi
Arti dasar dari diskriminasi itu sendiri adalah membedakan satu objek dari objek yang lainnya, suatu tindakan yang secara moral adalah netral dan tidak dapat disalahkan. Akan tetapi, dalam pengertian modern, istilah secara moral tidak netral: karena biasanya mengacu pada tindakan membedakan seseorang dari orang lain bukan berdasarkan keunggulan yang dimiliki, namun berdasarkan prasangka atau berdasarkan sikap-sikap yang secara moral tercela.
Seluruh para ahli menyatakan bahwa diskriminasi itu adalah salah dan kelompok – kelompok yang menentangnya adalah
1) Argumen Utilitarian, yang menyatakan bahwa diskriminasi mengarahkan pada penggunaan sumber daya manusia secara tidak efisien. Argumen utilitarian yang menentang diskriminasi rasial dan seksual berdasarkan pada gagasan bahwa produktivitas masyarakat akan optimal jika pekerjaan diberikan dengan berdasarkan kompetensi. Menurut argumen ini pekerjaan yang berbeda memerlukan keahlian dan sifat kepribadian yang berbeda jika kita ingin agar semuanya seproduktif dan seefisien mungkin.
2) Argumen Hak, yang menyatakan bahwa diskriminasi melanggar hak asasi manusia, Argumen no-utilitarian yang menentang diskriminasi rasial dan seksual salah satunya menyatakan bahwa diskriminasi salah karena hal tersebut melanggar hak moral dasar manusia. Pertama, diskriminasi didasarkan pada kayakinan bahwa suatu kelompok tertentu dianggap lebih rendah dibandingkankelompok lain. Kedua, diskriminasi menempatkan kelompok yang terdiskriminasi dalam posisi sosial dan ekonomi yang rendah. Hak untuk diperlakukan sebagai individu yang merdeka dan sederajat telah dilanggar.
3) Argumen Keadilan, menyatakan bahwa diskriminasi mengakibatkan munculnya perbedaan distribusi keuntungan dan beban dalam masyarakat. Kelompok argumen non-utilitarian kedua melihat diskriminasi sebagai pelanggaran atas prinsip-prinsip keadilan. Diskriminasi dalam pekerjaan adalah salah karena ia melanggar prinsip dasar keadilan dengan cara membedakan orang-orang berdasarkan karakteristik tertentu (rasa tau jenis kelamin) yang tidak relevan dengan tugas yang harus dilaksanakan.

Praktik Diskriminasi
Tindakan yang dianggap diskriminatif:
1) Rekrutmen, jika cenderung merekrut pegawai dari kelompok ras dan seksual yang sama dengan yang terdapat dalam perusahaan;
2) Screening, jika tidak relevan dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan;
3) Kenaikan pangkat, jika perusahaan memisahkan evaluasi kerja pria kulit putih dengan pegawai perempuan dan pegawai dari kelompok minoritas;
4) Kondisi pekerjaan, jika diberikan dalam jumlah yang tidak sama untuk orang-orang yang melaksanakan pekerjaan yang pada dasarnya sama;
5) PHK, memecat pegawai berdasarkan pertimbangan ras dan jenis kelamin.

Keragaman
Keragaman (diversity) merujuk pada kehadiran budaya, bahasa, etnis, ras, orientasi kedekatan hubungan, gender, agama, kemampuan, kelas sosial, usia dan asal negara dari setiap individu yang beragam disebuah perusahaan.  
Secara teoretis, ada 4 cara menjelaskan hubungan keragaman dan konflik:
1) Primordialis
Aliran ini percaya bahwa secara alami dan naluriah, orang yang berbeda memiliki kecenderungan berkonflik.Konflik antar identitas tidak bisa dicegah dan dihindari, hanya bisa dikelola saja.
2) Instrumentalis
Aliran ini percaya bahwa orang yang berbeda belum tentu berkonflik. Mereka dapat hidup berdampingan, dan baru berkonflik setelah sentimen identitas mereka digerakkan
3) Konstruktivis
Aliran ini percaya bahwa identitas adalah hasil konstruksi manusia, artinya bisa diciptakan, bisa dihilangkan.Kategori sebuah identitas dan pembedaan yang terjadi karenanya ditentukan oleh manusia dan tidak berkepentingan.
4) Institusionalis
Aliran ini percaya bahwa hubungan antar identitas sangat ditentukan oleh pengaturan kelembagaannya. Jika lembaga dapat mengelola keragaman dengan baik, tidak akan terjadi konflik.  Sebaliknya, jika lembaga gagal mengelola keragaman, konflik akan terjadi.

a.Manfaat keberagaman ditempat kerja :
1) Manfaat dalam Manajemen Orang
Manfaat keberagaman dalam manajemen orang yakni menarik dan mempertahankan tenaga kerja berbakat.Organisasi menginginkan tenaga kerja berbakat karena kemampuan, ketrampilan dan pengalaman orang-orang tersebutlah yang membuat organisasi menjadi sukses.Selain itu manfaat dalam manjemen orang yakni dapat mengandalkan karyawan ditempat kerja, tim-tim kerja dengan berbagai latar belakang yang berbeda sering membawa perspektif yang berbeda untuk diskusi, yang menghasilkan lebih banyak ide kreatif dan solusi.
2) Manfaat dalam Kinerja Organisasi
Manfaat kinerja yang diperoleh organisasi dalam keberagaman adalah penghematan biaya dan perbaikan fungsi dalam organisasi.Penghematan biaya bisa signifikan karena organisasi menumbuhkan keberagaman tenaga kerja yang dapat mengurangi pengunduran diri, absensi dan tuntutan hukum. Perbaikan dalam fungsi organisasi dengan tenaga kerja yang beragam mengharuskan proses dan prosedur menjadi lebih akomodatif dan inklusif.
3) Manfaat Strategis
Salah satu manfaat strategis dengan tenaga kerja beragam ialah organisasi dapat lebih mengantisipasi dan merespon perubahan kebutuhan konsumen. Beragamnya karyawan akan mendapat sudut pandang dan pendekatan yang beragam pula untuk membuka kesempatan yang dapat memperbaiki cara organisasi menawarkan prodok dan jasanya kepada konsumen yang beragam.
Keragaman memberi manfaat di tempat kerja tetapi upaya keragaman juga menciptakan konflik baru.Ketika sebuah perusahaan menyatukan individu - individu dengan berbagai perbedaan terdapat kemungkinan munculnya ketegangan dan kekhawatiran dalam wilayah-wilayah tertentu. Selain itu, kemungkinan besar organisasi ini akan meminta karyawannya untuk bekerja sama guna mencapai tujuan bersama, dalam tim, dalam peran supervisi atau subordinasi dan dalam hubungan kekuasaan, semua permintaan yang mungkin mengakibatkan konflik atau ketegangan bahkan tekanan tambahan seperti tantangan budaya.
Upaya untuk memahami multikulturalisme seperti mengakui dan mempromosikan keragaman melalui perayaan dan apresiasi dari keragaman budaya ditempat kerja dapat berfungsi sebagai sarana untuk mendidik dan mendukung manfaat yang terkait upaya keragaman.
Afirmatif
Merujuk pada sebuah kebijakan atau sebuah program yang berusaha untuk menanggapi berbagai contoh diskriminasi di masa lalu dengan mengimplementasikan langkah-langkah proaktif guna menjamin adanya kesempatan yang sama di masa kini.Pedoman dasar untuk menciptakan program dan kebijakan tindakan afirmatif:
1) Upaya atau kebijakan tindakan afirmatif tidak boleh melanggar secara tidak perlu hak hak karyawan mayoritas.
2) Upaya atau kebijakan tindakan afirmatif tidak boleh menyisihkan posisi apapun bagi perempuan dan kaum minoritas.
3) Upaya atau kebijakan ini tidak boleh mengguncang harapan para karyawan yang tidak terlegitimasi namun berakar kuat.
4) Upaya atau kebijakan ini harus bersifat sementara yaitu bertujuan untuk mendapatkan, bukan mempertahankan.
5) Upaya atau kebijakan ini harus menghadirkan gangguan yang minimal kedalam harapan karyawan lain yang telah terlegitimasi.

a.Tindakan Afirmatif Sebagai Kompensasi
Program tindakan afirmatif diinterpresentasikan sebagai salah satu bentuk ganti rugi yang diberikan kaum pria kulit putih kepada perempuan dan kelompok minoritas karena telah merugikan mereka secara tidak adil mendiskriminasikan mereka di masa lalu.
Kelemahan prinsip ini mensyaratkan kompensasi hanya dari individu-individu yang secara sengaja merugikan orang lain, dan memberikan kompensasi hanya dari individu-individu yang dirugikan.

b.Tindakan Afirmatif Sebagai Intrumen untuk mencapai Tujuan Sosial
Program tindakan afirmatif merupakan cara yang secara moral sah untuk mencapai tujuan keadilan, sekipun mungkin bukan merupakan cara yang secara moral diperlukan untuk tujuan-tujuan tersebut.

c.Penerapan Tindakan Afirmatif dan Penanganan Keberagaman
Keberhasilan atau kegagalan program tindakan afirmatif sebagian juga bergantung pada dukungan yang diberikan perusahaan pada kebutuhan untuk mencapai keberagaman secara rasial dan seksual dalam susunan tenaga kerja di perusahaan.

d.Gaji yang sebanding untuk Pekerjaan yang Sebanding
Program nilai sebanding dimaksudkan untuk mengatasi masalah gaji rendah yang oleh mekanisme pasar selama ini cenderung selalu diberikan pada pegawai perempuan. Program nilai sebanding menilai setiap pekerjaan menurut tingkat kesulitan, persyaratan keahlian, pengalaman, akuntabilitas, risiko, persyaratan pengetahuan, tanggungjawab, kondisi kerja, dan semua faktor lain yang dianggap layak memperoleh kompensasi.