Senin, 18 September 2017

Bisnis Dan Etika Dalam Dunia Modern (II/II)

PENILAIAN UMUM
Penilaian umum adalah cara yang ketiga dan salah satu cara yang paling ampuh untuk dapat menentukan apakah suatu perbuatan baik atau tidak. Penilaian umum dapat disebut juga Audit Sosial, karena cara menilainya adalah dengan menyerahkan penilaian kepada masyarakat umum. “Audit” disini berarti kualitas etis yang dimiliki suatu perbuatan yang ditentukan oleh penilaian masyarakat umum. “Umum” adalah kata yang perlu mendapat perhatian khusus dalam pembahasan ini. Bila masyarakat menilai suatu perbuatan dengan ukuran dan pertimbangan yang terbatas maka penilaian tersebut tidaklah cukup, mungkin saja mereka memiliki vested interest sehingga mereka dapat begitu saja membenarkan perbuatan yang dirasa menguntungkan tetapi tidak memperhatikan kualitas etisnya.
Hasil penilaian yang subyektif didapatkan ketika masyarakat yang melakukan penialaian juga masih memiliki keterbatasan, maka hasil yang diperoleh pun hanya dari sudut pandang tertentu. Keterbukaan adalah kunci dari suksesnya penilaian yang dilakukan masyarakat. Perilaku yang baik secara moral tidak akan terlalu terpengaruh dengan adanya tuntutan keterbukaan, sementara perilaku yang tidak baik secara moral akan dilakukan oleh beberapa orang secara tersembunyi.
Beberapa golongan di dalam masyarakat adalah orang-orang yang menganut relativisme moral, yaitu keyakinan bahwa di dalam masyarakat yang memiliki nilai-nilai sosial berbeda akan memiliki norma-norma yang berbeda  pula. Beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Jerman menolak dengan keras adanya praktik korupsi. Akan tetapi, di beberapa negara berkembang, praktik korupsi berkembang dengan sangat pesat dan dianggap sebagai perbuatan yang normal untuk dilakukan. Contoh lain ada di dalam dunia bisnis yang dilakukan oleh negara Jepang dan Amerika Serikat. Jepang beranggapan bahwa nilai yang tertinggi adalah kesetiaan karyawan kepada perusahaan, sedangkan Amerika Serikat beranggapan bahwa nilai yang tertinggi adalah kebebasan individu.
Contoh-contoh kasus diatas menjelaskan pada kita bahwa orang-orang yang terlibat adalah orang yang menghindari keterbukaan. Audit sosial menunjukkan bahwa tidak ada satupun negara negara di dunia ini yang menerima bahwa praktik korupsi sebagai perilaku yang dan bahkan diterima secara moral.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah, bisnis yang baik harus memenuhi semua persyaratan dari semua sudut pandang seperti yang dijelaskan diatas. Anggapan umum tentang bisnis yang baik adalah bisnis yang berorientasi pada keuntungan, akan tetapi bisnis yang baik adalah bisnis yang menegakkan etika dan hukum dengan tegas pula.

PROFIL ETIKA BISNIS DEWASA INI
Dewasa ini, Etika Bisnis sudah dapat terima sebagai suatu disiplin ilmu yang mapan dan mempunyai status ilmiah yang serius. Akan tetapi Etika Bisnis tetap harus terus berjuang untuk membuktikan diri sebagai disiplin ilmu yang disegani. Beberapa  pertanda yang menunjukkan status dari Etika Bisnis cukup meyakinkan dan beberapa poin profil ilmiah yang dimiliki Etika Bisnis di masa sekarang, yaitu:
Ciri pertama tentang status ilmiah yang dimiliki Etika Bisnis adalah segala praktis di dalam dunia Etika Bisnis diberikan sebagai mata kuliah resmi di perguruan tinggi. Kedudukaan Etika Bisnis begitu kuat sebagai mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi.  Pada sebuah riset tahun 1987, diselenggarakan 500 kuliah etika bisnis dan lebih dari 40.000 mahasiswa yang mengikuti kuliah tersebut. Dewasa ini dapat dipastikan akan ada lebih banyak perkuliahaan Etika Bisnis yang diadakan dalam skala global.
Publikasi mengenai Etika Bisnis juga telah banyak diterbitkan. Menurut riset tahun 1987 pula, sudah terbit lebih dari 20 buku pegangan tentang Etika Bisnis dan lebih dari 10 buku kasus di Amerika Serikat. Jumlah saat ini jelas sudah sangat banyak bertambah dan publikasi tersebut selalu mengikuti perkembangan globalisasi.
Ilmu tentang Etika Bisnis juga telah melahirkan cukup banyak jurnal ilmiah dan hal tersebut adalah tanda suatu bidang ilmu dapat dikatakan mencapai tingkat kematangan imiah. Selain itu terdapat banyak artikel bertema Etika Bisnis yang diterbitkan, baik di dalam majalah ekonomi, manajemen, ataupun filsafat.
Terdapat banyak kamus tentang Etika Bisnis yang diterbitkan dalam bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Di sisi lain, cukup banyak institut yang secara khusus mempelajari permasalahan seputar Etika Bisnis.Beberapa asosiasi yang bertujuan khusus untuk memajukan Etika Bisnis juga telah banyak berdiri. Cara yang digunakan adalah dengan mengumpulkan dosen-dosen yang mengajarkan Etika Bisnis dan paminat lain ke dalam pertemuan berkala.

SIKAP MODERN DEWASA INI
Kita dapat melihat data sejarah dan kebudayaan bahwa kegiatan bisnis butuh waktu cukup lama untuk mendapatkan anggapan yang baik dari masyarakat seperti sekarang ini. Di zaman ini kegiatan bisnis dianggap sebagai kegiatan yang baik, akan tetapi tidak dengan di masa lalu. Maka terdapat perbedaan sikap yang harus ditunjukkan untuk menjalankan kegiatan bisnis. Salah satu tolak ukur adanya penunjukkan sikap negatif terhadap kegiatan adalah motivasi dari kegiatan bisnis itu sendiri, mencari keuntungan. Pencarian keuntungan biasanya dikaitkan dengan sifat egoisme atau mementingkan diri sendiri, dan itu adalah sifat yang tidak baik dipandang dari sisi moral. Sifat yang berlawanan dari egoisme adalah altruisme, yaitu sifat yang sangat mementingkan orang lain bahkan menganggap rendah kepentingan dirinya sendiri. Jelas altruisme adalah sifat yang baik dipandang dari sisi moral.
Adam Smith menjelaskan tentang perbedaan antara kepentingan diri sendiri dengan egoisme di dalam dunia bisnis modern. Orang yang terlibat dalam kegiatan bisnis memang adalah orang yang mementingkan kepentingan diri akan tetapi orang tersebut tidak sampai menyebabkan kerugian pada orang lain. Justru, karena ada perilaku ekonomi di dalam dunia bisnis, hal itulah yang menguntungkan kedua belah pihak. Etika tetap sangat dibutuhkan agar hal itu dapat terwujud, dan etika yang harus dietgakkan dlam kegiatan bisnis adalah jangan sampai perilaku kita merugikan oran lain.
Di zaman sekarang ini, etika bisnis sedang mengalami beberapa keprihatinan. Kapitalisme adalah momok yang membuat keprihatinan tersebut terjadi. Saat ini telah banyak bermunculan konglomerat dan korporasi multinasional. Pertumbuhan mereka sangat pesat, kepentingan yang mereka bawa juga sangat besar, dan kekayaan yang mereka miliki bahkan melebihi kekayaan sebuah negara. Akibatnya adalah bisnis menduduki posisi yang sangat penting dalam bidang perekonomian. Pertanyaan yang bermunculan salah satunya adalah, “Apa yang akan terjadi jika perusahaan-perusahaan multinasional tersebut akan menguasai dunia?”.
Kekuasaan adalah alasan munculnya permasalahan di dalam Etika Bisnis. Kegiatan bisnis ingin menciptakan kekuasaan yang besar.  Bagi sebagian orang, apa yang sedanng terjadi di dalam dunia bisnis sudah tidak terkontrol. Kekuasaan yang tidak terkontorl adalah alasan mengapa muncul perilaku tidak baik yang lain, korupsi. Pertanyaan yang muncul  adalah, bagaimana membatasi sifat ingin mendapatkan kekuasaan yang besar tersebut agar tidak terjadi penyalahgunaan? Hal itulah hyang menjadi tantangan tersendiri bagi bidang keilmuan Etika Bisnis.
Di era sekarang ini, era globalisasi, bisnis yang bertaraf nasional maupun internasional memiliki masalah yang tidak sesederhana itu. Masalah pelik tersebut adalah kekuasaan ekonomi yang merajalela dengan sangat bebas, maka ekonomi-ekonomi lemah akan menjadi korbannya. Kekuasaan akan selalu menjadi hak milik bagi mereka yang memiliki kekuatan ekonomi besar. Maka, prinsip yang harus menjadi perhatian utama kita adalah etika harus selalu ikut serta dalam seluruh kegiatan bisnis.

KRITIK ATAS ETIKA BISNIS
Etika Bisnis adalah bidang keilmuan yang akademis, maka Etika Bisnis tentu masih mengalami beberapa permasalahan. Penyempurnaan bahkan penambahan materi sebagai pengayaan materi Etika Bisnis harus terus dilakukan. Etika Bisnis harus memiliki sifat terbuka sehingga dapat menerima masukan, kritik, dan saran yang membangun. Akan tetapi, banyak ditemukan kritik yang bermaksud tidak baik terhadap Etika Bisnis,setelah ini akan dijelaskan mengenai pandangan Etika Bisnis yang sebenarnya.

ETIKA BISNIS ITU MENDISKRIMINASI
Permasalahan pertama terjadi di dalam dunia Etika Bisnis karena orang yang mengirimkan kritikan tersebut kepada Etika Bisnis, bukan apa isi dari kritikan tersebut. Peter Drucker, seorang ahli dalam bidang manajemen, pernah mengemukakan kritik yanng sangat tajam tentang dasar logika yang dipakai di dalam Etika Bisnis beserta penerapannya di dunia praktis. Inti dari keberatan yang dilontarkan Ducker adalah Etika Bisnis menjalankan praktik diskriminasi. Drucker beranggapan bahwa Etika Bisnis sengaja ingin diperlakukan spesial tentang caranya mengaitkan bisnis dengan etika. Banyak pihak yang beranggapan bahwa tuduhan yang diberikan Drucker tidak beralasan.
Etika Bisnis adalah prinsip moral yang umum atas suatu bidang khusus. Norma-norma yang dipakai di dalam Etika Bisnis bukan karena ada norma-norma yang tidak berlaku untuk bidang selain bisnis, semua itu karena keadaan dan masalah yang terjadi mempunyai corak khusus. Dengan adanya Etika Bisnis membuat tidak adanya pengecualian diantara manusia. Kegiatan bisnis adalah kegiatan yang harus dilakukan seperti kegiatan manusiawi lainnya dan yang paling utama adalah membutuhkan etika.

ETIKA BISNIS ITU KONTRADIKTIF
Etika Bisnis mengandung banyak sekali sisi kontradiktif, beberapa orang mengakui hal itu karena menurut mereka antara kegiatan bisnis dengan etika tidak bisa disatukan. Bisnis adalah salah satu kegiatan yang tidak mungkin dijalankan dengan etika karena kegiatan bisnis sama halnya seperti kagiatan di alam rimba. Dominasi yang kuat akan menindas yang lemah. Kritikan ini lebih sulit untuk diberikan responsnya karena banyak sudut pandang yang harus dijelaskan agar detail dari ilmu Etika Bisnis dapat tersampaikan dan membantah kritikan tersebut.

ETIKA BISNIS ITU TIDAK PRAKTIS
Sejak awal kemunculan sampai saat ini masih cukup banyak orang yang tersesat dengan berbagai penjelasan mengenai Etika Bisnis sebagai ilmu pengetahuan, salah satunya adalah Andrew Stark. Andrew Stark adalah seorang ahli dalam bidang manajemen dan dia mengatakan bahwa Etika Bisnis adalah bidang keilmuan yang tidak praktis.
Kritikan Stark bisa dikatakan tidak masuk akal karena dia hanya mengambil kesimpulan dari aspek-aspek etis tentang keputusan yang harus diambil oleh seorang manajer dan dia kurang berminat untuk mempelajari secara menyeluruh di mana pekerjaannya ditempatkan. Sebagai ilmu pengetahuan, Etika Bisnis bersifat relektif dan teoritif. Teori dengan praktik tidak dapat dipisahkan, termasuk ketika menerapkannya pada metode kasus.

ETIKAWAN TIDAK BISA MENGAMBIL ALIH TANGGUNGJAWAB
Setiap manusia adalah pelaku moral yang bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya  sendiri. Menurut orang-orang yang melontarkn kritikan bahwa kita tidak membutuhkan orang yang ahli di bidang Etika Bisnis, karena orang-orang tersebut mengambil alih tanggung jawab setiap manusia untuk menentukan apa yang harus diperbuatnya sendiri terhadap moral. Seluruh kritikan yang telah dilontarkan sebenarnya berasal dari sebuah kesalahpahaman.
Etika Bisnis bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada semua orang (terlepas apakah dia seorang pebisnis, manajer, atau pelaku moral yang lain di bidang bisnis) bahwa perilaku-perilaku yang dijelaskan di dalam etika bisnis adalah perilaku yang secara umum diakui sebagai perilaku yang baik untuk dilakukan, khususnya di kegiatan bisnis. Etika Bisnis bertujuan untuk membantu seseorang mengambil sebuah keputusan moral yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan, akan tetapi tidak bertujuan untuk menggantikan posisi dan peran orang tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar